Just another WordPress.com site

Terbaru

Ensamble Musik Tradisional Batak


Untuk mendeskripsikan musik dan ensambel musik, baik yang solo instrumen, pendekatan yang dilakukan adalah bersifat organologi dengan sistem pengklasifikasian alat musik berdasarkan Horn von Bostel dan Curt Sach yang membagi alat musik berdasarkan lima kategori besar, yaitu :
(1) Idiofon, yaitu alat musik dengan karakter dimana badannya sendiri yang menghasilkan bunyi utama.
(2) Kordofon, yaitu alat musik yang suaranya dihasilkan akibat getaran senar atau dawai.
(3) Membranofon, yaitu alat musik yang menghasilkan bunyi dari getaran membran atau kulit.
(4) Aerofon, yaitu alat musik yang menghasilkan bunyi akibat getaran udara.
(5) Elektrofon, yaitu alat musik yang bunyinya berdasarkan kekuatan listrik.
Meskipun pendekatan organologi tersebut, untuk memudahkan masyarakat pendukung instrumen musik tersebut, maka alat-alat musik tersebut juga dikelompokkan ke dalam masing-masing etnis dengan membagi lebih rinci lagi ke dalam sistem klasifikasi Curt Sach tersebut.

Khusus tentang solo instrumen, pendekatan yang dilakukan juga adalah lebih bersifat khusus. Ada beberapa instrumen yang sebenarnya bukan merupakan alat musik yang digunakan secara umum, bahkan masyarakatnya sendiri sebenarnya tidak mengkategorikan alat tersebut sebagai instrumen musik, karena istilah musik sendiri tidak terdapat dalam budaya masyarakatnya. Namun apabila kita melihat alatnya sendiri, maka sebenarnya alat itu sendiri dapat dikelompokkan ke dalam instrumen musik.

Hal ini memang tidak dapat kita pungkiri lagi di dalam tradisi musik etnis di Indonesia. Sebagai contoh misalnya olek-olek (aerofon multi reed) yang terbuat dari satu ruas batang padi dengan pangkal ujungnya dipecah-pecah sedemikian rupa menjadi lidah (reed) untuk menghasilkan suara, dan badan batang padi itu sendiri dibuatkan beberapa lubang nada, dan pangkal ujung satu lagi dililitkan daun tebu atau enau sebagai resonator, tidak disebut sebagai alat musik. Padahal secara musikal alat tersebut sangat memeuhi syarat untuk dikatakan alat musik berdasarkan nada di dalam ruang dan waktu.

1. Batak Toba
Pada masyarakat Toba atau tapanuli utara terdapat beberapa jenis ensambel musik, yaitu gondang sabangunan, gondang hasapi, dan uning-uningan. Gondang Sabangunan merupakan ensambel musik ter besar yang terdapat di Toba. Ensambel musik ini juga digunakan untuk upacara-upacara adat yang besar. Disamping gondang sabangunan, gondang hasapi adalah ensambel lebih kecil, kemudian uning-uningan.

Sebutan untuk pemain musik ini secara keseluruhan — walaupun penyebutan untuk masing-masing instrumen juga ada disebut pargonsi (baca: pargocci). Terkadang disebut panggual pargonsi saja. Disamping ensambel tersebut juga masih terdapat alat-alat musik berupa solo instrumen dan yang digunakan sebagai alat-alat mendukung permainan atau lebih bersifat pribadi. Jika dikelompokkan secara organologi berdasarkan klasifikasi Horn von Bostel dan Curt Sach maka alat-alat musik Toba dapat dilihat sebagai berikut :

1.1. Kelompok Idiofon :
a. Oloan
Oloan adalah salah satu gung berpencu yang terdapat pada Batak Toba. Oloan dimainkan secara bersamaan dengan tiga buah gung yang lain dalam satu ensambel, sehingga jumlahnya empat buah, yang juga dimainkan oleh empat orang pemain. Keempat gung ini biasa disebut dengan ogung, namun masing-masing penamaan ogung ini dibedakan berdasarkan peranannya di dalam ensambel musik.

Oloan ini terbuat dari bahan metal/perunggu dengan sistem cetak. Sekarang ini bahan gung ini sudah banyak terbuat dari bahan besi plat yang dibentuk sedemikian rupa. Untuk membedakannya dengan suara ogung lainnya maka tuning yang dilakukan adalah dengan menempelkan getah puli (sejenis pohon enau) dibagian dalam gung tersebut. Semakin banyak getah puli tersebut, maka semakin rendahlah suara gung tersebut. Gung oloan berukuran garis menengah lebih kurang 32,5 cm, tinggi 7 cm, dan bendulan (pencu) di tengah dengan diameter lebih kurang 10 cm.

Oloan dipukul pencunya dengan stick yang terbuat dari kayu dan pangkal ujungnya dilapisi dengan kain atau karet. Gung oloan selalu diikuti oleh gung ihutan dengan ritem yang sama, namun tidak akan pernah jatuh pada ritem yang sama (canon ritmik).

b. Ihutan
Seperti sudah dijelaskan di atas, bahwa ihutan juga adalah merupakan gung berpencu yang digunakan dalam satu ensambel dengan tiga gung lainnya. Yang membedakannya dengan gong lainnya adalah ukurannya, bunyi, dan teknik permainannya.

Ihutan berukuran dengan garis menengah (diameter) lebih kecil sedikit dari oloan, yaitu 31 cm, tinggi (tebal) 8 cm, dan diameter pencu lebih kurang 11 cm. Ritemnya konstan dan bersahut-sahutan dengan gong oloan (litany), sehingga bunyi sahut-sahutan antara dua gong ini secara onomatope disebut polol-polol. Gong ini juga dimainkan dengan menggunakan satu stick yang terbuat dari kayu yang diobungkus dengan kain atau karet. Dimainkan oleh satu orang pemain.

c. Panggora
Panggora juga adalah satu buah gong yang berpencu yang dimainkan oleh satu orang. Bunyi dari gung ini adalah ‘ pok’. Bunyi ini timbul adalah karena gong ini dimainkan dengan memukul pencunya dengan stick sambil berdiri dan sisi gong tersebut dimute(diredam) dengan tangan. Gong ini adalah gong yang paling besar dinatara keempat gong yang ada. Ukurannya adalah garis menengah 37 cm, tinggi (tebal) 6 cm dan diameter pencunya lebih kurang 13 cm.

d. Doal
Doal juga adalah gong berpencu yang dimainkan secara bersahut-sahutan dengan panggora dengan bunyi secara onomatopenya adalah kel sehingga apabila dimainkan secara bersamaan dengan gong panggora akan kedengaran pok – kel – pok – kel dan seterusnya dengan ritem yang tidak berubah-ubah sampai kompisisi sebuah gondang (lagu) habis.

e. Hesek
Hesek adalah instrumen musik pembawa tempo utama dalam ensambel musik gondang sabangunan. Hesek ini merupakan alat musik perkusi konkusi. Hesek ini terbuat dari bahan metal yang terdiri dari dua buah dengan bentuk sama, yaitu seperti cymbal, namun ukurannya relatif jauh lebih kecil dengan diameter lebih kurang 10-15 cm, dan dua buah alat tersebut dihubungkan dengan tali. Namun sekarang ini alat musik ini terkadang digunakan sebuah besi saja, bahkan kadang-kadang dari botol saja.

f. Garantung
Garantung (baca : garattung) adalah jenis pukul yang terbuat dari wilahan kayu (xylophone) yang terbuat dari kayu ingol (Latin: …) dan dosi. Garantung terdiri dari 7 wilahan yang digantungkan di atas sebuah kotak yang sekaligus sebagai resonatornya. Masing-masing wilahan mempunyai nada masing-masing, yaitu 1 (do), 2 (re), 3 (mi), 4 (fa), 5 (so), 6 (la), dan 7 (si). Antara wilahan yang satu dengan wilahan yang lainnya dihubungkan dan digantungkan dengan tali.

Kotak resonator sendiri juga mempunyai tangkai, yang juga sekaligus merupakan bagian yang turut dipukul sebagai ritem dasar, dan wilahan sebagai melodi. Alat musik ini dimainkan dengan menggunakan dua buah stik untuk tangan kiri dan tangan kanan. Sementara tangan kiri berfungsi juga sebagai pembawa melodi dan pembawa ritem, yaitu tangan kiri memukul bagian tangkai garantung dan wilahan sekaligus dalam memainkan sebuah lagu. Alat musik ini dapat dimainkan secara solo (tunggal), namun dapat juga dimainkan dalam satu ensambel.

1.2. Kelompok Membranofon
a. Gordang
Gendang Batak Toba sering sekali disebut orang gondang atau taganing. Memang ke dua unsur tersebut terdapat dalam gendang tersebut, hanya saja secara detail bahwa gondang dan taganing meskipun keduanya adalah termasuk klasifikasi membranofon dan bentuknya juga hampir sama (hanya perbedaan ukuran), namun keduanya adalah berbeda.

Pengertian gondang sendiri bagi masyarakat Batak pada umumnya mempunyai beberapa pengertian tergantung dengan imbuhan kata apa yang melekat dengan kata gondang tersebut. Setidaknya ada empat pengertian gondang (Toba), gendang (Karo), gordang (Mandailing), genderang (Pak-Pak Dairi), gonrang (Simalungun), pada masyarakat ini, yaitu (1) sebagai nama lagu, (2) sebagai upacara, (3) sebagai instrumen, dan (4) sebagai ensambel.

Gordang adalah gendang yang paling besar yang terdapat pada masyarakat Batak Toba, yaitu gendang yang diletakkan pada sebelah kanan pemain di rak gendang tersebut. Gordang ini biasanya dimainkan oleh satu orang pemain dengan menggunakan dua buah stik. Gordang adalah merupakan bagian dari gendang yang lain (taganing).

Gendang Toba adalah salah satunya gendang yang melodis yang terdapat di Indonesia . Oleh karena lebih bersifat melodis dari perkusif, maka gondang ini menurut klasifikasi Horn von Bostel dan Curt Sach diklasifikasikan lebih khusus lagi yang disebut dengan drum-chime. Gordang merupakan gendang satu sisi berbentuk konis dengan tinggi lebih kurang 80 – 120 cm dengan diameter bagian atas (membran) lebih kurang 30–35 cm, dan dia meter bagian bawah lebih kurang 29 cm.

Gordang ini terbuat dari kayu nangka yang dilobangi bagian dalamnya, kemudian ditutuip dengan kulit lembu pada sisi atas, dan sisi bawah sebagai pasak untuk mengencangkan tali (lacing) yang terbuat dari rotan (rattan). Bagian yang dipukul dari gendang ini bukan hanya bagian membrannya, tetapi juga bagian sisinya untuk menghasilkan ritem tertentu secara berulang-ulang. Ritemnya lebih bersifat konstan.

Gordang biasanya dimainkan secara bersamaan dengan taganing. Gordang diletakkan disebelah kanan pemain(pargocci). Secara pintas gordang taganing adalah dianggap satu set karena bentuknya juga hampir sama, hanya saja dibedakan ukuran, letaknya juga dalam ensambel adalah dalam satu rak (hanger) yang sama.

b. Taganing
Taganing adalah drum set melodis (drum-chime), yaitu terdiri dari lima buah gendang yang gantungkan dalam sebuah rak. Bentuknya sama dengan gordang, hanya ukurannya bermacam-macam. Yang paling besar adalah gendang paling kanan, dan semakin ke kiri ukurannya semakin kecil. Nadanya juga demikian, semakin ke kiri semakin tinggi nadanya.

Taganing ini dimainkan oleh satu atau 2 orang dengan menggunakan dua buah stik. Dibanding dengan gordang yang rtelatif konstan, maka taganing adalah melodis.

c. Odap
Odap adalah gendang dua sisi berbentuk konis. Odap juga terbuat dari bahan kayu nangka dan kulit lembu serta tali pengencang/pengikat terbuat dari rotan. Ukuran tingginya lebih kurang 34 –37 cm, diameter membran sisi satu 26 cm, dan diametermembran sisi 2 lebih kurang 12 –14 cm.

Cara memainkannya adalah, bagian gendang dijepit dengan kaki, lalu dipukul dengan alat pemukul, sehingga bunyinya menghasilkan suara dap…, dap…, dap…, dan seterusnya. Alat musik ini juga dipakai dalam ensambel gondang sabangunan.

1.3. Kelompok Aerofon :
a. Sarune Bolon

Sarune bolon (aerophone double reed) adalah alat musik tiup yang paling besar yang terdapat pada masyarakat Toba. Alat musik ini digunakan dalam ensambel musik yang paling besar juga, yaitu gondang bolon (artinya : ensambel besar). Sarune bolon dalam ensambel berfungsi sebagai pembawa melodi utama. Dalam ensambel gondang bolon biasanya hanya dimainkan satu buah saja. Pemainnya disebut parsarune.

Teknik bermain sarune ini adalah dengan menggunakan istilah marsiulak hosa (circular breathing), yang artinya, seorang pemain sarune dapat melakukan tiupan tanpa putus-putus dengan mengatur pernapasan, sambil menghirup udara kembali lewat hidung sembari meniup sarune. Teknik ini dikenal hampir pada semua etnis Batak.

Tetapi penamaan untuk itu berbeda-beda, seperti di Karo disebut pulunama. Sarune ini terbuat dari kayu dan terdiri dari tiga bagian utama, yaitu (1) pangkal ujung sebagai resonator, (2) batangnya, yang sekaligus juga sebagai tempat lobang nada, dan (3) pangkal ujung penghasil bunyi dari lidah (reed) yang terbuat dari daun kelapa hijau yang dilipat sedemikian rupa yang diletakkan dalam sebuah pipa kecil dari logam, dan ditempelkan ke bagian badan sarune tersebut.

b. Sarune Bulu
Sarune bulu (sarune bambu) seperti namanya adalah sarune (aerophone-single reed, seperti Clarinet) terbuat dari bahan bambu. Sarune ini terbuat dari satu ruas bambu yang kedua ujungnya bolong (tanpa ruas) yang panjangnya kira-kira lebih kurang 10 – 12 cm, dengan diameter 1 – 2 cm.

Bambu ini dibuat lobang 5 biji dengan ukuran yang berbeda-beda. Pada pangkal ujung yang satu diletakkan lidah (reed) dari bambu yang dicungkil sebagian badannya untuk dijadikan alat penggetar bunyi. Lidahnya ini dimasukkan ke batang sarune tersebut, dan bisa dicopot-copot. Panjang lidah ini sendiri lebih kurang 5 cm. Sarune ini di Mandailing juga dikenal dengan nama yang sama.

c. Sulim
Sulim (Aerophone : side blown flute) adalah alat musik tiup yang terbuat dari bambu seperti seruling atau suling. Sulim ini panjangnya berbeda-beda tergantung nada dasar yang mau dihasilkan. Sulim ini mempunyai 6 lobang nada dengan jarak antara satu lobang nada dengan lobang nada lainnya dilakukan berdasarkan pengukuran-pengukuran tradisional. Namun secara melodi yang dihasilkan suling ini meskipun dapat juga memainkan lagu-lagu minor, tetapi lebih cenderung memainkan tangga nada mayor (major scale) dengan nada diatonis.

Perbedaan sulim ini dengan suling-suling lainnya adalah, suara yang dihasilkan adalah selalu bervibrasi. Hal ini dikarenakan adanya satu lobang yang dibuat khusus untuk menghasilkan vibrasi ini, yaitu satu lobang yang dibuat antara lobang nada dengan lobang tiupan dengan diameter lebih kurang 1 cm, dan lobang tersebut ditutupi dengan membran dari bahan plastik, sehingga suara yang dihasilkan adalah bervibrasi.

d. Ole-Ole
Ole-ole (Aerophone : multi-reed) adalah alat musik tiup yang sebenarnya termasuk ke dalam jenis alat musik bersifat solo instrumen. Alat musik ini terbuat dari satu ruas batang padi dan pada pangkal ujung dekat ruasnya dipecah-pecah sedemikian rupa, sehingga pecahan batang ini menjadi alat penggetar udara sebagai penghasil bunyi (multi lidah/reed).

Alat musik ini juga terkadang dibuat lobang nada pada batangnya. Banyak lobang nada tidak beraturan tergantung kepada pembuat dan nada-nada yang ingin dicapai. Hal ini karena alat ini lebih bersifat hiburan pribadi. Pada pangkal ujungnya digulung daun tebu atau daun kelapa sebagai resonatornya, sehingga suara yang dihasilkan lebih keras dan bisa terdengar jauh. Alat musik ini bersifat musiman, yaitu ketika panen tiba.

e. Sordam
f. Talatoat
g. Balobat
h. Tulila

1.4. Kelompok Kordofon
a. Hasapi

b. Sidideng (Arbab)
c. Panggepeng
d. Saga-saga

Ensambel gondang sabangunan ini terdiri dari satu buah sarune bolon (Aeropon, double-reed), terkadang juga menggunakan sarune etek (sarune kecil yang bentuknya lebih kecil dari sarune bolon sebagai pembawa melodi, satu set drum yang disebut taganing (drum-chime), yaitu enam buah drum yang digantung pada satu buah rak, dipukul oleh dua orang dengan stik.

Gondang ini adalah drum yang melodis, disamping sebagai pembawa ritem gondang ini juga pembawa melodis. Empat buah gong, yaitu odap, panggora, doal dan ihutan. Satu buah hesek, yaitu satu buah besi yang dipukul sebagai pembawa tempo.

Pada masyarakat Batak, status sosial mereka adalah dapat dikatakan tinggi dan di hormati. Oleh sebab itu, pemain musik biasanya selalu mengambil tempat lebih tinggi dari masyarakat pada umumya dalam satu upacara. Misalnya pada upacara mangalahat horbo (upacara memotong kerbau), pemain musik di daerah Toba biasanya bermain musik di rumah adat, sedangkan upacaranya sendiri dilaksanakan di halaman rumah adat tersebut. Ini juga menggambarkan simbol, bahwa musisi itu juga statusnya di hormati dan tinggi.

Ensambel gondang hasapi adalah ensambel musik dengan menggunakan hasapi (long neck lute) sebagai pembawa melodi disertai alat musik sulim (aeropon, side-blown flute). Hasapi biasanya digunakan dua buah, satu hasapi ende, yaitu hasapi sebagai pembawa melodi dan satu lagi hasapi doal, yaitu hasapi sebagai pembawa tempo.

Uning-uningan adalah satu ensambel yang menggunakan instrumen yang dianggap lebih kecil dari dua ensambel musik diatas. Ensambel ini menggunakan alat musik sebagai pembawa melodi garantung (sejenis xylophone), dipukul dengan menggunakan dua buah stik. Stik ini tidak saja dipukul ke wilayah-wilayah, tetapi juga sebagai pembawa tempo dengan memukul stik yang satu kebagian tangkai garantung tersebut.

“Muara” Kampung Halaman Tercinta!!!


suatu kota kecamatan di sebelah Selatan Danau Toba, tepatnya Kecamatan Muara Kabupaten Tapanuli Utara Propinsi Sumatera Utara. Daerah ini kaya akan pemandangan alam yang menakjubkan, untaian pegunungan Bukit Barisan merupakan dindingnya dan hentangan Danau Toba menjadi halamannya dengan Pulau Sibandang yang bertengger cukup anggun.

Untuk mencapai daerah ini tidaklah sulit, angkutan darat secara rutin ada dari Medan, Pematang Siantar, Prapat dan kota-kota lain disekitarnya. Dari Medan ditempuh dengan perjalanan 6-7 jam dengan melewati Pematang Siantar, Prapat  dan Balige. Dengan menyewa kapal di Danau Toba dapat juga ditempuh bahkan lebih mengasyikkan sambil mengelilingi danau tersebut. Dengan angkutan udara sudah ada Susi Air dari Polonia Medan ke Bandara Silangit yang merupakan satu pintu masuk menuju Muara Nauli dan mungkin dalam waktu dekat akan disusul dengan Riau Airlines (RAL).

Setelah memasuki daerah Silangit menuju Muara Nauli, alangkah baiknya kalau singgah dulu di Sipinsur dan Huta Ginjang. Pemandangan dari Sipinsur cukup mengagumkan, demikian juga dari Huta Ginjang yang pada tahun 2008 merupakan tempat diadakannya event bertaraf  olah raga dirgantara gantole bertaraf nasional.

Muara Nauli, penduduknya adalah suku Batak Toba yang bermarga Simatupang (Togatorop, Sianturi dan Siburian), Siregar dan Aritonang (Simare-mare, Raja Guk-guk dan Ompu Sunggu). Marga-marga inilah yang merupakan penduduk asli daerah tersebut, namun sesuai perkembangan zaman, marga-marga lain dari suku Batak sudah ada juga disana bahkan dari suku lain.

Mata pencaharian penduduknya pada umumnya adalah petani. Kita dapat lihat indahnya pematang-pematang sawah pada musim tanam dan musim panen, yang merupakan sawah olahan penduduk setempat. Panduduknya cukup ramah terhadap pendatang.

Di Muara Nauli sudah tersedia Hotel berbintang tiga (Hotel Sentosa) dan Hotel Muara Nauli. Apabila ingin mengelilingi Danau Toba sekitar Muara Nauli dapat menyewa speed boat yang disediakan kedua hotel tersebut. Sungguh mengasyikkan !.

Jalur lain yang dapat ditempuh adalah dari Dolok Sanggul turun ke Bakara (asal Raja Sisinga Mangaraja XII) dan terus ke Huta Lontung (asal Letjen TNI (P) Sahala Rajaguk-guk/alm), namun bagi yang belum pernah lewat daerah ini dengan membawa kendaraan sendiri dianjurkan untuk tidak melewati daerah ini karena jalannya banyak belokan tajam dan curam, tapi bagi yang suka tantangan…inilah tempatnya.

Apabila kita melewati Silangit, sepanjang perjalanan kita akan disuguhi pemandangan alam yang indah. Ditempat-tempat tertentu sudah disediakan tempat berteduh sambil menikmati pemandangan alam, tapi jangan lupa bawa bekal sebelumnya karena ditempat-tempat berteduh tersebut jauh dari warung untuk membeli makanan atau minuman ringan.

Lebih asyik lagi mengunjungi daerah ini pada saat musim mangga (mangga muara) yang buahnya kecil tapi sangat manis, kira-kira bulan Juli dan Desember setiap tahunnya. Horas !

Muara Nauli


Kecamatan Muara di kabupaten Tapanuli Utara cukup terkenal dengan buah mangganya. Daerah ini memiliki potensi pertanian pangan (padi) plawija (bawang) perkebunan (mangga). Sejak memasuki daerah Muara dari Silangit, kita akan menebar pemandangan dan melihat pepohonan hijau terbentang hingga pulau nan indah Sibandang. Melewati Kota Muara menuju Lontung hingga Bakkara juga kita masih melihat pohon Mangga bertebar di sisi jalan.

Bulan Januari ini musim mangga di Muara. Rencana berburu mangga sudah saya rencanakan sejak awal panen, namun selalu ada saja penghambat. Kemaren (Minggu 26/1) bersama teman saya Lambaik Manalu wartawan Batak Pos melaju ke Muara. Panorama indah tidak kami abaikan sembari melihat pohon mangga di tepi jalan. Wah, ini terlihat pohon mangga masih berbunga. Sempat ada rasa kecewa, kehabisan buah mangga “namalamum” yang sudah masak.

Menjelang Unte Mungkur dipinggir jalan kami melihat anak-anak kecil berjejer seraya menyapa “mangga tulang … mangga”. Mereka menawarkan mangga dagangan mereka yang ditempatkan didalam ember plastik dan kantongan plastik. Mereka cukup agresif memberi keyakinan pada kami untuk membeli mangganya itu. Saya melihat mangga itu agak kecil dan kulitnya kurang bagus, sebagian masih mengkal. Karena semangat dan kelucuan yang mereka lakonkan, saya jadi tertarik membeli dagangan mereka itu.

Ada boru Aritonang, boru Rajagukguk, Ompusunggu. Di beberapa kelompok cilik lain kami tidak sempat menanyai marga mereka. Begitu mereka tau kami dari Laguboti mereka tertawa dan sebagian tidak yakin. Paling tidak kami dianggapnya dari Medan atau Jakarta. Wah ….. apa kami ini kereeennnn! ;-)

“Mangga yang kulitnya hitam itu manis tulang”, jelas mereka meyakinkan saya saat memilih mangga yang baik untuk dicoba. Ternyata benar…. Hmmmm…. Maniss…. Enak…. Menakjubkan. Anda pernah menikmati mangga Muara ? Woooooww pasti anda meneteskan air liur.

Menjelang Muara kita melewati gapura alami dari pohon mangga di sisi kiri dan kanan jalan raya. Pohon mangga itu sekarang terlihat sudah termakan usia tua, tidak lagi rindang.
Kenapa buah mangga itu banyak yang busuk? Anak anak menjawab singkat. Kami tidak tau tulang. Kami tidak dari dalam, jadi tidak tau itu busuk. Itu jawaban anak kecil dan wajar. Namun jawaban dewasa harus mangkaji dulu, kenapa selalu begitu ?

Peningkatan kualitas mangga memang perlu dipikirkan untuk mampu menguasai pasar buah di Indonesia. Busuk mangga menjadi persoalan. Pengetahuan tradisional dari leluhur selalu mengatakan “Jangan memakan buah dekat pohonnya”. Semasa kecil saya berpikir, apa hubungannya? Kami dulu selalu membuat onggokan sampah rerumputan untuk dibakar dengan bara pada sore hari. Asap tanpa api mengebul mengitari sesisi kebun. Dengan kepatuhan tidak memakan buah di pohonnya dan membersihkan sekitar pohon dan menyingkirkan buah rusak yang jatuh ternyata meminimalkan buah busuk.

Sayang kami tidak sempat mengitari kebun mangga di Muara. Apakah dengan menerapkan pesan para orang tua untuk memelihara pohon berbuah dapat meningkatkan kualitas mangga di Muara?

Tidak ada fasilitas wisata musim mangga di Muara kami temukan. Setidaknya kami ingin masuk daerah kebun yang tertata rapi linglungan dengan fasilitas pendukung bagi pengunjung. Ada dua manfaat yang diharapkan wisatawan local ke Muara pada musim mangga. Makan mangga yang enak langsung dari kebunnya dan menikmati panorama indah danau toba.

muara_02.jpg muara_02a.jpg muara_03.jpg muara_04.jpg muara_05.jpg muara_06.jpg muara_07.jpg muara_08.jpg muara_09.jpg muara_13.jpg muara_14.jpg muara_15.jpg muara_16.jpg muara_17.jpg muara_18.jpg muara_19.jpg muara_20.jpg muara_21.jpg

Dibalik keindahan Muara..

Memandang dari atas buki ke Muara memang menakjubkan. Menelusuri punggung bukit menuju kota mangga itu menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. Di beberapa tempat lokasi pandang memang sudah disediakan fasilitas memandang bagi peminat panorama danau toba. Tapi sayang, lokasi itu gersang, penataan tanpa sentuhan seni, tanpa pohon rindang. Bila panas terik, maka siaplah terpanggang sinar matahari.

Di kota Muara kita menamukan dua hotel. Salah satu hotel terbaru cukup megah, namun sepi penginap. Pantai Muara tidak menawarkan pengunjung untuk mandi dan bermain di perairan. Pantainya kotor, sisi pantai tidak terawat. Beberapa tempat yang landai yang justru diharapkan untuk wisata pantai justru banyak tumpukan eceng gondok. Wah … dimana mandinya ya ?

Pelabuhan Muara sudah ditambah fasilitas dermaga untuk kapal ferry. Kabarnya ferri line Nainggolan-Muara sudah direncanakan. Dermaga dengan dana miliaran rupiah itu terkesan kurang rapi, asal ada saja. Dermaga itu menampung limbah danau. Disekitar dermaga terlihat lumut air menjuntai menyeramkan seperti siap membelit. Kebersihan memang salah satu topik untuk dipelajari bagainama melakukannya. Sekuat apa kita berteriak untuk menawarkan panorama indah danau toba, bila hal kecil soal kebersihan diabaikan, itu menjadi slogan penyangga untuk ketidak hadiran wisatawan keduakalinya.

NUNGA MARPARBUE MANGGA DI MUARA

nunga jumpang tingkina
marmutik mangga di balian
sinuan ni ompungta
tinamboran ni amanta dohot inanta

nunga leleng hupaima
las ma roha
dung mararumas parbuena
mongkol
marsipigo
unang rambasi nina angkang
asa denggan malamun
ringgas do nang ito mandulo

nunga malamun mangganta
hupaboa tu ito
dohot tu angkang
di nadao
dipangarantoan
asa manjangkit angkang
manutihi au ditoru

nunga malamun mangga di Muara
godang ma jolma ro
angka situhor mangga

hugadis do mangga di topi dalan
huingot do angkang dohot ito
dang huboto manongoshon
dang ro mangalap

masihol au tu angkang dohot ito
uju malamun mangga dihuta